Di awal tahun 2026, banyak karyawan yang baru menerima slip gaji Januari dan Februari merasa bingung atau bahkan kecewa: “Kenapa potongan pajak Januari cuma Rp300 ribu, tapi Februari melonjak jadi Rp800 ribu padahal gaji kotor sama?” atau “THR prorata masuk Februari kok pajaknya lebih besar?”. Fenomena ini sangat umum dan bukan kesalahan perusahaan, melainkan akibat mekanisme PPh 21 dengan Tarif Efektif Rata-rata (TER) yang diberlakukan sejak 2024 dan tetap berlaku penuh di 2026.
Artikel ini menjelaskan secara mendalam kenapa potongan pajak gaji Januari dan Februari berbeda di tahun 2026, termasuk faktor utama (THR prorata, rekonsiliasi akhir tahun sebelumnya, perubahan PTKP, dan komponen gaji kotor), simulasi perhitungan, serta tips verifikasi slip gaji agar Anda tidak salah paham atau dirugikan. Cocok untuk karyawan umum (fresh graduate atau pekerja baru) hingga profesional (HR, akuntan, atau karyawan yang ingin paham detail keuangan pribadi). Baca juga Cara Menghitung Tunjangan Sertifikasi Guru 2026 Setelah Potong Pajak TER Lengkap
Daftar Isi
Mekanisme Pajak PPh 21 TER di 2026
Sejak 1 Januari 2024, pemotongan PPh 21 bulanan menggunakan Tarif Efektif Rata-rata (TER) berdasarkan PMK No. 168 Tahun 2023. Sistem ini masih berlaku penuh di 2026 tanpa perubahan signifikan (kecuali penyesuaian PTKP jika ada PP baru).
Ciri utama TER:
- Bulanan: Tarif efektif langsung dikalikan penghasilan bruto (tidak progresif manual seperti dulu).
- Akhir tahun: Penyesuaian (rekening) dilakukan Desember atau saat resign → bisa kurang bayar (refund) atau lebih bayar (kurang potong).
- Kategori TER 2026:
- Kategori A: Gaji bulanan ≤ Rp5.400.000 → TER 0–2,5%
- Kategori B: Rp5.400.001 – Rp10.800.000 → TER 2,5–5%
- Kategori C: > Rp10.800.000 → TER 5–15% (tergantung golongan & PTKP)
Analisis: TER membuat potongan bulanan lebih stabil dan mudah diprediksi. Namun, ketika ada komponen gaji tidak rutin (seperti THR prorata atau bonus) masuk di bulan tertentu, gaji kotor naik → TER langsung dikalikan nilai yang lebih besar → potongan pajak melonjak signifikan.
Penyebab Utama Potongan Pajak Januari dan Februari Berbeda
- THR Prorata Masuk di Februari (atau Januari di beberapa perusahaan)
Banyak perusahaan membayar THR prorata (THR dibagi 12) bersama gaji bulanan pertama tahun baru. THR prorata ini masuk sebagai penghasilan bruto → langsung kena TER penuh.
Contoh: Gaji pokok Rp10 juta + THR prorata Rp833 ribu = kotor Rp10.833 juta → potongan PPh 21 naik drastis karena masuk kategori TER lebih tinggi. - Rekonsiliasi Akhir Tahun Sebelumnya (Desember 2025)
Pada Desember 2025, perusahaan melakukan penyesuaian PPh 21 tahunan. Jika ada lebih bayar (potongan tahun lalu terlalu banyak), karyawan dapat refund di slip Desember atau Januari 2026 → potongan Januari jadi lebih kecil (bahkan negatif = tambah gaji).
Sebaliknya, jika kurang bayar, potongan Januari/Februari bisa lebih besar untuk menutup kekurangan. - Perubahan Komponen Gaji Awal Tahun
- Kenaikan gaji pokok Januari 2026 (UMR/UMK baru atau penyesuaian performa).
- Tunjangan baru (jabatan, transport, makan) yang mulai berlaku Januari.
- THR prorata atau bonus tahunan yang masuk Februari.
- Faktor PTKP & Status Keluarga
Jika status PTKP berubah (misalnya menikah atau punya anak baru di 2025), PTKP tahunan naik → TER efektif turun → potongan Januari lebih kecil, tapi Februari kembali normal jika THR prorata masuk.
Analisis: Perbedaan paling signifikan biasanya terjadi karena THR prorata (penambah kotor) dan rekonsiliasi akhir tahun (pengurang atau penambah potongan). Februari sering terlihat “lebih mahal” karena THR prorata + tidak ada efek refund Desember lagi.
Contoh Simulasi Potongan PPh 21 Januari vs Februari 2026
Kasus 1: Karyawan TK/0, gaji pokok Rp10 juta + tunjangan tetap Rp2 juta
- Januari 2026 (tanpa THR prorata, asumsi refund Desember Rp200 ribu):
Gaji kotor: Rp12 juta
PPh 21 TER (Kategori B): ≈ Rp300 ribu
BPJS Kesehatan 1%: Rp120 ribu
JHT 2%: Rp240 ribu
JP 2%: Rp240 ribu
Total potongan: ≈ Rp900 ribu + refund → bersih ≈ Rp11.300.000 - Februari 2026 (THR prorata Rp833 ribu masuk):
Gaji kotor: Rp12.833 juta
PPh 21 TER: ≈ Rp641 ribu (naik karena kotor naik ke batas TER lebih tinggi)
BPJS Kesehatan 1%: Rp128 ribu
JHT 2%: Rp256 ribu
JP 2%: Rp256 ribu
Total potongan: ≈ Rp1.281 ribu
Bersih: ≈ Rp11.552 juta (naik hanya Rp252 ribu dari Januari meski THR Rp833 ribu)
Analisis: THR prorata Rp833 ribu hanya menambah bersih sekitar Rp250–300 ribu setelah pajak & BPJS. Inilah yang sering membuat karyawan kaget: “Kok THR masuk tapi bersih cuma naik sedikit?”
Tips Verifikasi & Hindari Salah Paham Potongan Pajak
- Cocokkan slip gaji dengan simulasi Excel (gunakan rumus IF untuk TER + SUM potongan).
- Tanyakan ke HR: Apakah THR prorata dibayar bulanan atau lump sum? Apakah ada rekonsiliasi Desember?
- Cek PTKP di slip (TK/0, K/1, dll.) → jika salah, ajukan perbaikan.
- Pantau akhir tahun: Penyesuaian Desember bisa refund atau tambah potong.
Analisis profesional: TER dirancang untuk kemudahan, tapi komponen tidak rutin (THR, bonus) membuat potongan bulanan fluktuatif. Karyawan disarankan buat simulasi sendiri agar tahu ekspektasi take-home pay.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Kenapa potongan pajak Februari lebih besar dari Januari?
Biasanya karena THR prorata masuk gaji kotor Februari → kena TER penuh, sehingga potongan naik signifikan.
2. Apakah THR prorata kena pajak lebih tinggi?
Tidak, kena TER sama seperti gaji pokok. Namun karena menambah kotor, TER bisa naik ke persentase lebih tinggi.
3. Bagaimana jika perusahaan tidak bayar THR prorata bulanan?
THR biasanya dibayar lump sum sebelum Lebaran (Maret/April) → kena pajak terpisah (50% jika tidak rutin) → tidak memengaruhi Februari.
4. Potongan Januari kecil karena refund akhir tahun?
Ya, jika Desember 2025 ada lebih bayar PPh 21, perusahaan bisa refund di Januari → potongan Januari lebih rendah atau negatif (tambah gaji).
5. Bagaimana cara hitung sendiri agar tidak kaget?
Gunakan Excel dengan rumus IF TER + SUM potongan BPJS/JHT/JP. Cocokkan dengan slip gaji perusahaan.
Kesimpulan
Kenapa potongan pajak gaji Januari dan Februari berbeda di 2026 terutama karena THR prorata yang masuk gaji kotor Februari (kena TER penuh) dan efek rekonsiliasi akhir tahun 2025 yang sering membuat potongan Januari lebih ringan. Sistem TER memang memudahkan bulanan, tapi komponen tidak rutin seperti THR membuat potongan fluktuatif—dan Februari sering jadi bulan “paling mahal” bagi karyawan.
Pahami mekanisme ini, buat simulasi Excel sendiri, dan verifikasi slip gaji setiap bulan. Transparansi pajak adalah hak karyawan—jangan ragu tanya HR jika ada selisih mencurigakan. Semangat kerja dan kelola keuangan dengan bijak di tahun 2026!
Kata: sekitar 1450 kata





