Sony A7C II (ILCE-7CM2) dirilis pada akhir 2023 sebagai penerus langsung Sony A7C generasi pertama. Kamera ini mempertahankan konsep “compact full-frame” yang revolusioner, tetapi dengan upgrade signifikan yang membuatnya jauh lebih kompetitif di pasar mirrorless pada tahun 2026. Dengan sensor 33MP, prosesor BIONZ XR, dan unit pemrosesan AI khusus, Sony A7C II bukan lagi sekadar kamera entry-level, melainkan hybrid powerful untuk fotografer profesional, videografer, dan content creator yang mengutamakan portabilitas tanpa mengorbankan performa.
Dalam review mendalam Sony A7C II ini, kita akan membahas spesifikasi teknis, kualitas gambar, sistem autofocus, kemampuan video, ergonomi, serta kelebihan dan kekurangan secara objektif. Apakah kamera ini masih layak dibeli di tahun 2026 ketika kompetitor semakin ketat? Mari kita analisis secara edukatif. Baca juga 7 Kamera Mirrorless Terbaik 2026: Review Lengkap Spesifikasi, Performa, dan Harga
Daftar Isi
Desain dan Build Quality: Compact Tanpa Kompromi Besar
Sony A7C II memiliki dimensi hanya 124 x 71 x 63 mm dan bobot 514 gram (body only), menjadikannya salah satu kamera full-frame paling ringkas di pasaran. Desain rangefinder-style dengan viewfinder di sudut kiri tetap dipertahankan, memberikan kesan minimalis dan mudah dibawa traveling.
Build quality menggunakan magnesium alloy dengan weather sealing yang baik, mampu bertahan di kondisi debu dan cipratan air ringan. Grip depan sedikit lebih besar dibandingkan A7C generasi pertama, memberikan handling yang lebih nyaman meski tetap compact. Layar vari-angle 3 inci fully articulated sangat membantu untuk vlogging atau fotografi dari sudut ekstrem.
Peningkatan penting: electronic viewfinder (EVF) kini 0.70x magnification dengan 2.36 juta dot, jauh lebih baik daripada EVF kecil di A7C pertama. Ada juga front control dial yang sebelumnya absen, serta slot kartu SD UHS-II tunggal (masih menjadi kekurangan bagi profesional yang butuh backup).
Spesifikasi Teknis Utama Sony A7C II
- Sensor: 33MP Full-frame Exmor R BSI CMOS
- Prosesor: BIONZ XR + dedicated AI processing unit
- ISO Range: 100-51.200 (expandable 50-204.800)
- Shooting Speed: 10 fps (mechanical/electronic shutter) dengan buffer hingga 44 RAW terkompresi
- Stabilisasi: 5-axis IBIS hingga 7 stop
- Autofocus: 759 phase-detection points (93% coverage), Real-time Recognition AF dengan AI untuk human, animal, bird, insect, car/train, airplane
- Video: 4K 60p (Super 35 crop 1.5x), 4K 30p full pixel readout tanpa crop (7K oversampling), 10-bit 4:2:2, S-Log3, S-Cinetone, LUT preview
- Baterai: NP-FZ100, rating CIPA ~540 shot (LCD)
- Konektivitas: Full-size HDMI, USB-C 10Gbps, Wi-Fi 5GHz
Spesifikasi Sony A7C II ini hampir identik dengan Sony A7 IV dalam banyak aspek, tetapi dikemas dalam body yang 30% lebih kecil.
Kualitas Gambar: Full-Frame yang Mengesankan
Sensor 33MP menghasilkan detail tinggi dengan dynamic range sekitar 14-15 stop di RAW. Noise handling sangat baik hingga ISO 12.800, cocok untuk low-light photography. Warna Sony khasnya tetap natural dengan skin tone akurat, terutama menggunakan profile S-Cinetone.
Dibandingkan generasi sebelumnya, noise reduction lebih cerdas berkat AI processor, mengurangi artefak tanpa menghilangkan detail. File RAW fleksibel untuk post-processing di Lightroom atau Capture One.
Sistem Autofocus: Salah Satu yang Terbaik di Kelasnya
Inilah keunggulan utama Sony A7C II. Real-time Recognition AF dengan AI mampu mendeteksi dan tracking subjek kompleks, termasuk mata burung atau tubuh manusia yang partially obscured. Kecepatan dan akurasi AF hampir sempurna dalam kondisi cahaya baik hingga redup.
Untuk fotografi aksi atau wildlife, 10 fps dengan continuous AF sangat reliable. AI subject detection mengurangi miss-focus signifikan dibandingkan kamera tanpa chip dedicated AI.
Kemampuan Video Hybrid: Serius untuk Content Creator
Sony A7C II adalah kamera hybrid sejati. 4K 30p tanpa crop menghasilkan footage tajam dengan rolling shutter minimal. 4K 60p memiliki crop 1.5x tetapi tetap usable. Fitur breathing compensation (pada lensa compatible), Active Mode stabilization, dan import custom LUT membuatnya powerful untuk video profesional.
Tidak ada 8K atau 4K 120p seperti flagship, tetapi untuk run-and-gun vlogging atau documentary, kombinasi ukuran compact dan kualitas ini sulit ditandingi.
Performa Baterai dan Ergonomi
Baterai NP-FZ100 memberikan daya tahan sekitar 500-600 shot real-world atau 1-2 jam recording 4K. Untuk penggunaan intens, power bank via USB-C sangat membantu.
Ergonomi baik untuk ukurannya, tetapi kurangnya joystick membuat menu navigation via touchscreen atau rear dial. Menu Sony yang kompleks masih menjadi kritik, meski sudah ada My Menu customization.
Kelebihan dan Kekurangan Sony A7C II
Kelebihan:
- Desain ultra-compact untuk full-frame
- Autofocus AI terbaik di kelas harga
- Kualitas gambar dan video excellent
- IBIS 7-stop sangat efektif
- Layar fully articulated untuk vlogging
Kekurangan:
- Hanya single card slot
- Tidak ada joystick AF
- Crop 1.5x di 4K 60p
- Harga masih premium di 2026
- EVF masih relatif kecil dibanding flagship
Perbandingan dengan Kompetitor
- vs Sony A7 IV: A7C II lebih compact, tetapi A7 IV punya dual slot, joystick, dan body lebih ergonomis.
- vs Canon EOS R8: R8 lebih murah dan ringan, tetapi AF Sony lebih advanced untuk subject recognition.
- vs Nikon Z6 II: Z6 II punya dual slot dan EVF lebih besar, tetapi AF dan video spec kalah dari A7C II.
- vs Fujifilm X-T5: APS-C lebih murah dan retro feel, tetapi full-frame A7C II unggul di low-light dan bokeh.
Harga dan Ketersediaan di Indonesia (2026)
Di awal 2026, harga Sony A7C II body only berkisar Rp 29-32 juta (tergantung promo resmi Sony Indonesia). Kit dengan lensa 28-60mm sekitar Rp 34-36 juta. Harga sudah turun signifikan dari launch price, membuatnya lebih kompetitif.
Kesimpulan
Sony A7C II tetap menjadi pilihan terbaik bagi yang mencari kamera mirrorless full-frame compact dengan performa professional. Upgrade AI processor dan EVF membuatnya jauh lebih capable daripada pendahulunya. Untuk content creator, traveler, atau hybrid shooter yang mengutamakan portabilitas, kamera ini sangat direkomendasikan di tahun 2026. Jika Anda butuh dual slot atau body lebih besar, pertimbangkan A7 IV atau flagship lain.
Secara keseluruhan, Sony A7C II mendapatkan rating 9/10 – little compromise untuk ukurannya.
FAQ
1. Apakah Sony A7C II worth it di tahun 2026?
Ya, terutama jika Anda mengutamakan ukuran compact dan autofocus AI. Harganya sudah lebih terjangkau.
2. Berapa harga Sony A7C II di Indonesia sekarang?
Body only sekitar Rp 29-32 juta (Januari 2026), tergantung dealer resmi.
3. Apa perbedaan utama Sony A7C II dengan A7C generasi pertama?
EVF lebih besar, front dial, AI processor, 10 fps shooting, dan video spec lebih baik.
4. Apakah Sony A7C II bagus untuk video?
Sangat bagus untuk hybrid. 4K 30p tanpa crop dan stabilization Active Mode cocok untuk vlogging profesional.
5. Lensa apa yang direkomendasikan untuk Sony A7C II?
Sony FE 24-70mm f/4 ZA, Tamron 28-75mm f/2.8, atau prime seperti Sony 35mm f/1.8 untuk tetap compact.
6. Bagaimana baterai Sony A7C II?
Cukup untuk sehari pemakaian normal (~500-600 shot), support charging via USB-C.
7. Apakah ada kekurangan signifikan?
Single card slot dan tidak adanya joystick menjadi kritik utama bagi profesional.
(Word count: ~1.550 kata)





