AI butuh listrik dan air ekstra karena chip khusus di pusat data bekerja sangat intens dan menghasilkan panas besar. Listrik dipakai untuk menjalankan komputasi dan sistem pendingin, sedangkan air dipakai untuk membuang panas, baik langsung di pusat data maupun tidak langsung di pembangkit listrik yang memasoknya. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi listrik pusat data dunia diperkirakan naik dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030, atau sekitar 3 persen kebutuhan listrik global.

Setiap kali kita bertanya pada chatbot atau membuat gambar dengan AI, ada perangkat keras yang bekerja di suatu tempat. Perangkat itu berada di pusat data yang menyedot listrik dan membutuhkan pendinginan tanpa henti. Perdebatan tentang seberapa besar dampaknya sering ekstrem: ada yang menyebut AI sebagai ancaman bagi jaringan listrik dan sumber air, ada pula yang menganggapnya remeh. Artikel ini merangkum data dari IEA, laboratorium riset pemerintah Amerika Serikat, dan Google, menjelaskan kenapa angkanya sering berbeda, lalu membahas situasi di Indonesia serta langkah yang bisa mengurangi beban tersebut.

Catatan data: seluruh angka di bawah adalah estimasi atau pengukuran dengan batasan berbeda-beda. Angka listrik relatif lebih solid, sedangkan angka air sangat bergantung pada apa yang dihitung. Angka untuk Indonesia bersumber dari pemberitaan dan proyeksi perusahaan, sehingga bisa berbeda antarsumber.

Kenapa AI Butuh Listrik Ekstra

Pusat data tradisional menjalankan server umum untuk situs web, penyimpanan, dan aplikasi. Beban kerja AI memakai server yang dipercepat oleh chip khusus seperti GPU, yang jauh lebih rakus daya. IEA memperkirakan konsumsi listrik server yang dipercepat, yang terutama didorong adopsi AI, tumbuh sekitar 30 persen per tahun pada skenario dasarnya, sedangkan server konvensional tumbuh sekitar 9 persen per tahun. Dalam pembaruan proyeksinya, IEA menyebut konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI akan berlipat tiga dalam periode 2025 hingga 2030.

Ada dua tahap AI yang memakan daya. Pelatihan model membutuhkan kluster chip dalam jumlah besar selama berminggu-minggu. Setelah itu ada inferensi, yaitu ketika model menjawab pertanyaan pengguna jutaan kali per hari. Karena jumlah pengguna terus bertambah, inferensi menjadi bagian yang makin besar dari total beban. Sebuah laporan yang dikutip Carbon Brief menyebut AI selama ini menyumbang sekitar 5 sampai 15 persen konsumsi listrik pusat data, tetapi bisa naik menjadi 35 sampai 50 persen pada 2030.

Angka-Angka Kunci Konsumsi Listrik

IndikatorAngkaSumber
Listrik pusat data dunia, 2024Sekitar 415 TWh, atau 1,5 persen listrik globalIEA, Energy and AI (2025)
Proyeksi 2030Sekitar 945 TWh, sedikit di atas konsumsi listrik Jepang saat iniIEA, Energy and AI (2025)
Proyeksi terbaruSekitar 485 TWh (2025) menjadi 950 TWh (2030), sekitar 3 persen listrik globalIEA, Key Questions on Energy and AI
Amerika Serikat, 2023Sekitar 4,4 persen listrik nasional, diproyeksikan 6,7 sampai 12 persen pada 2028Lawrence Berkeley National Laboratory (2024)
Kontribusi pada kenaikan permintaan global 2024 sampai 2030Kurang dari 10 persenIEA, Energy and AI (2025)

Dua hal perlu dibaca bersamaan. Di tingkat dunia, pusat data hanya menyumbang sebagian kecil kenaikan permintaan listrik karena faktor lain seperti industri, kendaraan listrik, dan pendingin ruangan juga tumbuh. Namun, IEA mencatat bahwa pusat data cenderung terkonsentrasi di lokasi tertentu, sehingga integrasinya ke jaringan listrik lokal bisa jauh lebih sulit daripada angka global menunjukkan.

Kenapa AI Butuh Air Ekstra

Chip yang bekerja keras menghasilkan panas, dan panas itu harus dibuang agar perangkat tidak rusak. Banyak pusat data memakai pendinginan berbasis penguapan air, karena lebih hemat listrik dibanding pendingin mekanis penuh. Akibatnya, penghematan energi kadang dibayar dengan penggunaan air. Ada juga air yang dipakai tidak langsung: pembangkit listrik yang memasok pusat data, terutama pembangkit termal, memakai air untuk pendinginannya sendiri.

Air langsung

Air yang menguap di pusat data untuk pendinginan. Laboratorium Berkeley memperkirakan pusat data Amerika Serikat memakai sekitar 66 miliar liter air langsung pada 2023.

Air tidak langsung

Air yang dikonsumsi pembangkit listrik. Laporan yang sama memperkirakan angkanya hampir 800 miliar liter, tergantung bauran pembangkit tiap wilayah.

Air per pertanyaan

Google melaporkan satu prompt teks Gemini median memakai sekitar 0,26 mililiter air, atau sekitar lima tetes.

Air saat pelatihan

Peneliti memperkirakan pelatihan GPT-3 di pusat data Microsoft dapat menguapkan sekitar 700.000 liter air bersih.

Kenapa Angka Air Bisa Berbeda Jauh

Google menyebut prompt teks Gemini median menghasilkan sekitar 0,24 Wh energi dan 0,26 mL air, dan membandingkannya dengan estimasi sebelumnya yang berkisar 45 hingga 50 mL per pertanyaan. Perusahaan lain melaporkan angka lebih tinggi karena memasukkan air tidak langsung. Jadi perbedaannya bukan sekadar siapa yang benar, melainkan batas perhitungan: apakah hanya air pendingin di lokasi, atau juga air di pembangkit listrik, jenis model, panjang jawaban, iklim lokasi, dan teknologi pendingin. Seorang peneliti air AI menyatakan bahwa jejak air sebenarnya per pertanyaan belum benar-benar diketahui dengan pasti.

Pelajaran praktisnya: perlakukan angka per prompt sebagai kisaran, bukan fakta tunggal. Untuk dampak nyata, lihat skala fasilitas dan lokasi. Satu prompt memang kecil, tetapi pusat data yang melayani miliaran permintaan berada di lokasi nyata dengan sumber air lokal.

Perspektif yang Seimbang

Beberapa ahli menekankan bahwa konsumsi air pusat data secara nasional relatif kecil dibanding pertanian atau manufaktur. Majalah Knowable mencatat bahwa 66 miliar liter itu kurang dari 1 persen konsumsi air Amerika Serikat. Meski begitu, dampak lokal bisa besar bila banyak pusat data berkumpul di wilayah dengan air terbatas, dan sejumlah komunitas di Amerika Serikat telah memprotes pembangunan pusat data. Di sisi efisiensi, Google mengklaim dalam makalahnya bahwa upaya efisiensi model menurunkan emisi total per prompt sekitar 44 kali lipat dalam 12 bulan. Klaim itu berasal dari penyedia sendiri, sehingga tetap perlu dibaca bersama data independen.

Soal emisi, IEA memperkirakan pusat data akan menyumbang sekitar 1 persen emisi CO2 global pada 2030 dalam skenario dasarnya, tetapi ini termasuk sedikit sektor yang emisinya masih naik. Bauran sumber listrik menentukan seberapa besar dampaknya: di Amerika Serikat gas alam menjadi sumber terbesar listrik pusat data, sedangkan di Tiongkok batu bara masih dominan.

Bagaimana dengan Indonesia

Pusat data Indonesia tumbuh cepat, dan angkanya bervariasi antarsumber. Menteri Koordinator Perekonomian menyebut kapasitas operasional sekitar 580 MW pada Juli 2026. Data IDPRO yang dikutip media menyebut 637 MW pada Mei 2026, sedangkan sumber lain menyebut 682 MW berdasarkan beban TI pada semester pertama 2026. Perbedaan ini wajar karena definisi dan waktu pengukurannya tidak sama. Data Center Map mencatat 198 pusat data beroperasi, dengan 128 di kawasan Jabodetabek.

Dari sisi listrik, PLN memproyeksikan kebutuhan listrik pusat data naik dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026 dan sekitar 5.226 MW pada 2034, mengacu pada RUPTL 2025 sampai 2034. Sebagian besar pusat data berada di kluster seperti Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek yang ditopang sistem Jawa-Bali, sedangkan Batam berkembang sebagai pusat data untuk kawasan.

Ada dua tantangan khas Indonesia. Pertama, bauran listrik nasional masih didominasi batu bara, sehingga komitmen energi terbarukan perusahaan teknologi global sulit dipenuhi tanpa kontrak energi hijau yang memadai. Media melaporkan data Kementerian ESDM bahwa batu bara menyumbang sekitar 65 persen produksi listrik hingga April 2026. Kedua, data resmi konsumsi air pusat data nasional belum saya temukan, sementara sejumlah estimasi media hanya berupa simulasi. Karena itu, transparansi pelaporan konsumsi air dan listrik menjadi kebutuhan yang mendesak.

Untuk memahami bagaimana pusat data dan layanan cloud saling terkait, lihat penjelasan pengertian Google Cloud Platform dan bahasan tentang mengapa harga Google Cloud bervariasi, termasuk pengaruh region atau lokasi pusat data.

Solusi yang Sedang Ditempuh

  • Efisiensi model dan chip. Model yang lebih kecil dan chip yang lebih hemat mengurangi energi per tugas.
  • Pendinginan yang lebih efisien. Contohnya pendinginan cair dan pendinginan udara luar (free-air cooling) yang memanfaatkan suhu lingkungan, meski efektivitasnya bergantung pada iklim lokasi.
  • Energi terbarukan dan kontrak listrik hijau. IEA memperkirakan separuh pertumbuhan permintaan pusat data dunia hingga 2035 dipenuhi energi terbarukan, didukung penyimpanan dan jaringan listrik.
  • Pemilihan lokasi. Menempatkan pusat data di wilayah dengan listrik bersih dan air memadai mengurangi tekanan lokal.
  • Transparansi pelaporan. Pengungkapan konsumsi energi dan air per fasilitas memungkinkan publik dan regulator menilai dampak sebenarnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna dan Profesional

  1. Pilih model sesuai kebutuhan. Untuk tugas sederhana, model yang lebih kecil sering cukup.
  2. Hindari pemakaian berulang yang tidak perlu. Tulis instruksi yang jelas agar tidak perlu membuat ulang berkali-kali.
  3. Tanyakan data lingkungan ke penyedia cloud. Bagi organisasi, minta informasi efisiensi energi, penggunaan air, dan sumber listrik region yang dipakai.
  4. Pertimbangkan lokasi region. Pilih region dengan listrik bersih bila latensi dan regulasi mengizinkan.
  5. Dorong kebijakan yang transparan. Dampak individu kecil, tetapi tuntutan pelaporan dan standar lebih berpengaruh.

Baca sumber aslinya

Analisis lengkap tersedia di laporan Energy and AI dari IEA. Untuk pengukuran per prompt, baca makalah Google tentang dampak lingkungan pelayanan AI, dan untuk data pusat data Amerika Serikat, lihat laporan Lawrence Berkeley National Laboratory.

FAQ

Kenapa AI butuh listrik dan air ekstra?

Chip AI bekerja intens dan menghasilkan panas besar. Listrik dibutuhkan untuk komputasi dan pendinginan, sedangkan air dipakai untuk membuang panas, baik di pusat data maupun di pembangkit listrik yang memasoknya.

Berapa listrik yang dipakai pusat data dunia?

IEA memperkirakan sekitar 415 TWh pada 2024 (1,5 persen listrik global). Proyeksi terbarunya menyebut sekitar 485 TWh pada 2025 dan 950 TWh pada 2030.

Berapa air yang dipakai satu pertanyaan ke AI?

Tergantung cara menghitung. Google melaporkan sekitar 0,26 mL untuk prompt teks Gemini median, sedangkan perusahaan lain melaporkan angka jauh lebih tinggi karena memasukkan air tidak langsung.

Apakah AI benar-benar mengancam pasokan air?

Secara nasional, konsumsi air pusat data relatif kecil dibanding sektor lain. Namun dampak lokal bisa besar di wilayah dengan banyak pusat data dan air terbatas.

Bagaimana kondisi pusat data di Indonesia?

Kapasitas operasional berkisar 580 sampai 682 MW menurut berbagai sumber pada 2026. PLN memproyeksikan kebutuhan listrik pusat data naik hingga sekitar 5.226 MW pada 2034.

Kesimpulan

AI memang butuh listrik dan air ekstra, tetapi ukuran masalahnya bergantung pada sudut pandang. Secara global, pusat data masih sebagian kecil kebutuhan listrik dan air, namun tumbuh cepat dan terkonsentrasi di lokasi tertentu, sehingga tekanannya terasa di tingkat lokal. Angka yang beredar sering berbeda karena batas perhitungan, jadi kritislah terhadap klaim ekstrem di kedua sisi. Bagi Indonesia, tantangan utamanya adalah memastikan pertumbuhan pusat data ditopang listrik yang lebih bersih dan pelaporan air yang transparan. Sebagai pembaca, sikap paling berguna adalah menanyakan sumber dan batas perhitungan setiap angka yang Anda temui, karena pertanyaan itu sering lebih menentukan kesimpulan daripada angkanya sendiri.

Bagikan: