Punya kartu kredit saat masih berstatus pelajar atau mahasiswa memang terdengar sulit—apalagi kalau belum punya penghasilan tetap. Padahal, kebutuhan seperti bayar langganan aplikasi, belanja online dengan cicilan 0%, atau sekadar membangun riwayat keuangan sejak dini membuat banyak anak muda mencari cara membuat kartu kredit untuk pelajar yang realistis dan aman. Artikel ini membahas syarat resmi, jalur-jalur yang benar-benar bisa ditempuh, sampai risiko yang wajib dipahami sebelum mengajukan.

21 thusia minimal pemegang kartu utama
17 thusia minimal kartu tambahan
Rp3 jtpenghasilan minimal kartu utama
3xplafon maks. dari penghasilan bulanan

Kenapa Pelajar Sulit Mendapat Kartu Kredit Sendiri?

Aturan main kartu kredit di Indonesia mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mensyaratkan pemegang kartu utama berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah, dengan penghasilan tetap minimal Rp3 juta per bulan. Bank juga menghitung plafon kredit maksimal sebesar tiga kali penghasilan bulanan yang dibuktikan lewat slip gaji, faktur pajak, atau rekening koran. Karena mayoritas pelajar dan mahasiswa belum memenuhi dua syarat inti ini—usia dan bukti penghasilan tetap—pengajuan kartu kredit reguler ke bank hampir selalu ditolak di tahap awal.

Namun bukan berarti jalan tertutup total. Ada beberapa skema resmi yang sengaja dirancang perbankan untuk nasabah muda tanpa penghasilan tetap, dan itulah yang akan dibahas satu per satu berikut ini.

5 Cara Membuat Kartu Kredit untuk Pelajar

1. Kartu Tambahan dari Orang Tua

Cara paling umum dan mudah disetujui. Limit berbagi dengan kartu utama orang tua.

2. Secured Credit Card

Ajukan dengan jaminan deposito di bank penerbit; limit mengikuti nilai jaminan.

3. Program Member Get Member

Direkomendasikan nasabah aktif yang track record pembayarannya bagus.

4. Bangun Rekam Jejak di Satu Bank

Jadi nasabah tabungan aktif dulu sebelum mengajukan kartu kredit di bank yang sama.

5. PayLater/BNPL sebagai Alternatif

Bukan kartu kredit, tapi fungsinya mirip dan syaratnya jauh lebih longgar.

1. Menjadi Pemegang Kartu Tambahan (Supplementary Card)

Jika orang tua atau wali sudah memiliki kartu kredit aktif, mereka bisa mengajukan kartu tambahan atas nama pelajar. Syaratnya jauh lebih ringan: usia minimal 17 tahun, punya hubungan keluarga dengan pemegang kartu utama, dan mendapat izin dari pemegang kartu utama—tanpa perlu bukti penghasilan sendiri. Semua transaksi lewat kartu tambahan otomatis tercatat dalam satu tagihan bersama kartu utama, sehingga orang tua tetap bisa memantau dan mengontrol pengeluaran.

Skema ini juga jadi cara paling efektif bagi pelajar untuk belajar mengelola kartu kredit secara nyata, karena limitnya dibagi dari kartu utama sehingga risiko penyalahgunaan relatif lebih terkendali dibanding mengajukan kartu sendiri sejak awal.

Perlu diingat: keterlambatan pembayaran pada kartu tambahan tetap memengaruhi skor kredit pemegang kartu utama—bukan hanya nama pelajar yang tercatat di kartu tersebut. Disiplin membayar tagihan tepat waktu jadi tanggung jawab bersama.

2. Kartu Kredit dengan Jaminan (Secured Credit Card)

Berbeda dari kartu kredit konvensional, secured credit card mengharuskan calon pemegang menyetorkan sejumlah dana sebagai jaminan atau deposito ke bank penerbit. Limit kartu yang diberikan biasanya setara dengan nilai deposito tersebut. Skema ini populer di luar negeri sebagai kartu kredit pertama untuk pelajar yang belum punya riwayat kredit (credit history), dan mulai dilirik sebagai opsi bagi mahasiswa di Indonesia yang punya tabungan namun belum berpenghasilan tetap.

3. Program Member Get Member (MGM) dan Event Kampus

Beberapa bank rutin menggelar program Member Get Member untuk menjaring nasabah baru lewat referensi nasabah lama yang rekam jejak pembayarannya baik. Selain itu, bank juga kerap membuka booth di acara kampus atau job fair dengan syarat pengajuan yang disederhanakan—cukup menunjukkan KTP, kartu mahasiswa, dan kadang bukti rekening tabungan. Kalau kebetulan punya penghasilan tambahan dari kerja paruh waktu, itu bisa memperbesar peluang disetujui.

4. Membangun Rekam Jejak di Bank yang Sama

Menjadi nasabah tabungan aktif dalam jangka waktu tertentu di satu bank membuat pihak bank punya data mutasi dan saldo yang bisa dijadikan pertimbangan tambahan saat pelajar mengajukan kartu kredit di kemudian hari—meski tetap harus memenuhi syarat usia dan penghasilan begitu benar-benar mengajukan kartu utama sendiri.

5. PayLater atau BNPL sebagai Alternatif Realistis

Bagi pelajar yang belum bisa memenuhi syarat kartu kredit sama sekali, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater menjadi alternatif dengan proses pengajuan yang jauh lebih cepat dan syarat lebih longgar, umumnya cukup KTP. Namun perlu dicatat, OJK sedang memperketat aturan main BNPL: nasabah baru wajib berusia minimal 18 tahun atau sudah menikah, dengan penghasilan minimal Rp3 juta per bulan, dan ketentuan ini efektif berlaku penuh paling lambat 1 Januari 2027. Artinya, PayLater bukan lagi celah tanpa syarat sama sekali—tetap ada batas usia dan penghasilan yang perlu dipenuhi ke depannya.

“Memiliki kartu kredit bukan hanya soal kemudahan akses ke sumber dana, tapi juga tanggung jawab mengelolanya dengan disiplin—kebiasaan ini akan menentukan kesehatan finansial jangka panjang.”

Tabel Perbandingan Cepat: Pilihan untuk Pelajar

OpsiSyarat UtamaKontrol Limit
Kartu tambahanUsia 17 th, izin pemegang kartu utamaBerbagi limit dengan kartu utama
Secured credit cardSetor deposito jaminanSebesar nilai deposito
Kartu kredit regulerUsia 21 th, penghasilan min. Rp3 jutaMaks. 3x penghasilan bulanan
PayLater/BNPLKTP, tren ke arah usia 18 th & penghasilan min. Rp3 juta (2027)Ditentukan penyedia, umumnya lebih longgar

Tips Memilih dan Mengelola Kartu Kredit Pertama

  • Pilih kartu tanpa iuran tahunan (annual fee) atau yang gratis di tahun pertama agar tidak menambah beban saat belum punya penghasilan tetap.
  • Mulai dari limit kecil. Limit yang rendah justru membantu melatih disiplin tanpa risiko utang menumpuk.
  • Bayar tagihan penuh (full payment) setiap bulan, bukan hanya minimum payment, supaya tidak terkena bunga berbunga yang membengkak.
  • Catat setiap transaksi agar total pengeluaran tetap terkontrol dan tidak melebihi kemampuan bayar.
  • Cek riwayat kredit lewat SLIK OJK secara berkala begitu mulai punya kartu, agar tahu posisi skor kredit sejak dini.
  • Hindari mengajukan ke banyak penerbit sekaligus dalam waktu berdekatan karena bisa menurunkan peluang persetujuan dan berdampak pada skor kredit.
Sudut pandang profesional: bagi mahasiswa yang berencana melanjutkan studi atau berkarier di luar negeri, memiliki kartu tambahan sejak dini juga bermanfaat untuk mulai membangun kebiasaan credit history—meski skor kredit di Indonesia dan luar negeri dihitung dengan sistem yang berbeda dan tidak otomatis terbawa lintas negara.

Risiko yang Wajib Diwaspadai

Kartu kredit tetap merupakan produk utang, bukan uang tambahan. Bunga kartu kredit di Indonesia relatif tinggi dibanding produk pinjaman lain, dan keterlambatan pembayaran akan dikenai denda serta tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK—yang akan diperiksa bank lain saat pelajar tersebut kelak mengajukan pinjaman lain seperti KPR atau kredit kendaraan. Untuk kartu tambahan, tanggung jawab pembayaran tetap ada di pemegang kartu utama, sehingga penyalahgunaan oleh pelajar bisa merusak nama baik orang tua di mata bank.

Sebelum mengajukan, pastikan memahami ketentuan resmi kartu kredit dari sumber otoritatif.

Cek Ketentuan Resmi OJK

FAQ Seputar Kartu Kredit untuk Pelajar

Apakah pelajar SMA bisa punya kartu kredit?

Bisa, tapi hanya sebagai pemegang kartu tambahan dengan syarat usia minimal 17 tahun dan izin dari pemegang kartu utama—bukan mengajukan kartu utama sendiri.

Berapa usia minimal untuk mengajukan kartu kredit sendiri (kartu utama)?

Sesuai ketentuan Bank Indonesia, usia minimal pemegang kartu utama adalah 21 tahun atau sudah menikah, dengan penghasilan tetap minimal Rp3 juta per bulan.

Apakah mahasiswa tanpa penghasilan bisa mengajukan kartu kredit reguler?

Sangat sulit, karena bank mewajibkan bukti penghasilan tetap. Opsi yang lebih realistis adalah kartu tambahan, secured credit card, atau program khusus saat event kampus.

Apa bedanya kartu tambahan dan kartu utama?

Kartu tambahan berbagi limit dan tagihan dengan kartu utama serta tidak memerlukan bukti penghasilan sendiri, sementara kartu utama berdiri sendiri dengan limit dan tagihan atas nama pemegangnya sendiri.

Apakah PayLater sama dengan kartu kredit?

Tidak sama. PayLater adalah produk pembiayaan dari perusahaan fintech/pembiayaan, bukan produk perbankan, dengan mekanisme dan regulasi yang berbeda dari kartu kredit—meski fungsinya serupa untuk transaksi kredit.

Apakah telat bayar kartu tambahan memengaruhi orang tua?

Ya. Karena tagihan kartu tambahan menyatu dengan kartu utama, keterlambatan pembayaran akan tercatat pada riwayat kredit pemegang kartu utama, yaitu orang tua atau wali.

Kesimpulan

Cara membuat kartu kredit untuk pelajar yang paling realistis bukan dengan memaksakan pengajuan kartu utama sendiri—karena syarat usia 21 tahun dan penghasilan tetap minimal Rp3 juta memang sengaja dibuat ketat oleh regulator untuk melindungi konsumen muda dari risiko utang berlebih. Jalur yang jauh lebih masuk akal adalah kartu tambahan dari orang tua, secured credit card dengan jaminan deposito, atau memanfaatkan program bank saat masih berstatus mahasiswa. Yang lebih penting dari sekadar “punya kartu kredit” adalah membangun kebiasaan mengelola kredit secara sehat sejak dini: membayar penuh setiap bulan, mencatat pengeluaran, dan memahami bahwa setiap transaksi kartu kredit adalah utang yang harus dilunasi. Kebiasaan inilah yang akan menentukan seberapa mudah seseorang mengakses produk keuangan yang lebih besar—seperti KPR atau kredit usaha—di masa depan.

Bagikan: