- Simulasi Potongan PPh 21 Kategori A, B, C 2026 – Contoh Lengkap
- Recap Singkat: Apa Beda Kategori A, B, dan C?
- Tabel Simulasi Potongan PPh 21: 9 Level Gaji × 3 Kategori
- Sorotan Kasus 1: Gaji Rp8.000.000
- Sorotan Kasus 2: Gaji Rp15.000.000
- Sorotan Kasus 3: Gaji Rp30.000.000
- Analisis: Pola Penghematan Pajak Berdasarkan Status Keluarga
- Kapan Kategori Tidak Lagi Berpengaruh Signifikan?
- Kesimpulan
Simulasi Potongan PPh 21 Kategori A, B, C 2026 – Contoh Lengkap
Simulasi potongan PPh 21 skema TER untuk 9 level gaji berbeda, membandingkan kategori A, B, dan C secara berdampingan.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari karyawan maupun HRD adalah: “seberapa besar sebenarnya perbedaan potongan pajak antara status lajang dan menikah dengan tanggungan?” Alih-alih hanya menjelaskan konsep kategori TER secara teori, artikel ini menyajikan simulasi potongan PPh 21 kategori A, B, dan C secara berdampingan untuk sembilan level gaji berbeda, dari Rp5 juta hingga Rp50 juta, sehingga Anda bisa langsung melihat pola dan besaran penghematan pajak berdasarkan status PTKP masing-masing.
Recap Singkat: Apa Beda Kategori A, B, dan C?
TER A
PTKP TK/0 (lajang tanpa tanggungan) dan TK/1 & K/0 (lajang 1 tanggungan atau menikah tanpa tanggungan).
TER B
PTKP TK/2 & K/1 (lajang 2 tanggungan atau menikah 1 tanggungan) dan TK/3 & K/2.
TER C
PTKP TK/3 (lajang 3 tanggungan, maksimal tanggungan yang diakui).
Semakin tinggi hurufnya, semakin besar PTKP dan semakin tinggi ambang batas 0% pada tabel TER, sehingga secara umum tarif efektif kategori C sedikit lebih rendah dibanding A pada level gaji yang sama.
Tabel Simulasi Potongan PPh 21: 9 Level Gaji × 3 Kategori
| Gaji Bruto/Bulan | TER A | PPh 21 (A) | TER B | PPh 21 (B) | TER C | PPh 21 (C) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Rp5.000.000 | 0% | Rp0 | 0% | Rp0 | 0% | Rp0 |
| Rp7.000.000 | 1,25% | Rp87.500 | 0,75% | Rp52.500 | 0,5% | Rp35.000 |
| Rp8.000.000 | 1,5% | Rp120.000 | 1% | Rp80.000 | 1% | Rp80.000 |
| Rp10.000.000 | 2% | Rp200.000 | 1,5% | Rp150.000 | 1,5% | Rp150.000 |
| Rp12.000.000 | 4% | Rp480.000 | 3% | Rp360.000 | 2% | Rp240.000 |
| Rp15.000.000 | 6% | Rp900.000 | 6% | Rp900.000 | 5% | Rp750.000 |
| Rp20.000.000 | 9% | Rp1.800.000 | 8% | Rp1.600.000 | 8% | Rp1.600.000 |
| Rp30.000.000 | 12% | Rp3.600.000 | 12% | Rp3.600.000 | 11% | Rp3.300.000 |
| Rp50.000.000 | 18% | Rp9.000.000 | 18% | Rp9.000.000 | 17% | Rp8.500.000 |
Sorotan Kasus 1: Gaji Rp8.000.000
Pada level gaji Rp8 juta, karyawan kategori A (lajang) membayar PPh 21 sebesar Rp120.000, sementara kategori B dan C sama-sama membayar Rp80.000. Selisih Rp40.000 per bulan mungkin terlihat kecil, namun dalam setahun setara Rp480.000, cukup untuk satu kali pengisian bensin penuh atau tagihan internet dua bulan.
Sorotan Kasus 2: Gaji Rp15.000.000
Di level gaji Rp15 juta, kategori A dan B kebetulan sama-sama membayar Rp900.000, sementara kategori C membayar Rp750.000, lebih hemat Rp150.000 per bulan atau Rp1.800.000 per tahun. Ini menunjukkan bahwa penghematan dari kategori PTKP lebih tinggi tidak selalu linear naik seiring gaji, melainkan tergantung posisi gaji terhadap batas lapisan tabel TER masing-masing kategori.
Sorotan Kasus 3: Gaji Rp30.000.000
Pada level gaji Rp30 juta, kategori A dan B kembali sejajar di Rp3.600.000, sedangkan kategori C tetap unggul dengan Rp3.300.000, selisih Rp300.000 per bulan atau Rp3.600.000 per tahun. Semakin tinggi gaji, selisih nominal antar kategori cenderung membesar meski selisih persentase tarifnya relatif kecil.
Analisis: Pola Penghematan Pajak Berdasarkan Status Keluarga
Dari sembilan simulasi di atas, terlihat pola yang konsisten: kategori C (PTKP tertinggi) hampir selalu memiliki tarif efektif sama atau lebih rendah dibanding kategori A pada gaji yang identik, dengan selisih yang membesar secara nominal seiring naiknya gaji. Namun menariknya, pada beberapa level gaji seperti Rp15 juta dan Rp30 juta, kategori A dan B justru berada di tarif yang sama, menunjukkan bahwa efek penghematan PTKP tidak selalu proporsional di setiap titik gaji, melainkan bergantung pada di mana posisi gaji tersebut jatuh dalam struktur lapisan masing-masing tabel.
Bagi HRD yang mengelola payroll banyak karyawan, pola ini penting dipahami agar tidak berasumsi bahwa karyawan dengan tanggungan selalu membayar pajak jauh lebih rendah dibanding karyawan lajang; pada sejumlah rentang gaji tertentu, selisihnya bisa nol.
Kapan Kategori Tidak Lagi Berpengaruh Signifikan?
Semakin tinggi gaji, kontribusi relatif dari perbedaan PTKP terhadap total penghasilan semakin mengecil secara persentase, meski tetap terlihat besar secara nominal. Pada gaji Rp50 juta misalnya, selisih Rp500.000 antara kategori A dan C hanya setara 1 persen dari total gaji, dibanding gaji Rp8 juta di mana selisih Rp40.000 juga relatif kecil namun secara proporsi terhadap total pajak yang dibayar jauh lebih terasa (33 persen lebih rendah). Ini artinya, manfaat kategori PTKP yang lebih tinggi paling terasa secara proporsional justru di kelas menengah, bukan di gaji sangat tinggi.
Kategori mana yang paling hemat pajak?
Kategori C (PTKP tertinggi) umumnya memiliki tarif efektif sama atau lebih rendah dibanding A dan B pada gaji yang identik, meski pada beberapa level gaji tertentu selisihnya bisa nol.
Apakah simulasi ini sudah termasuk potongan BPJS?
Belum. Simulasi ini murni menghitung PPh 21 berdasarkan tarif TER dikalikan gaji bruto bulanan, tanpa memperhitungkan potongan BPJS Kesehatan atau Ketenagakerjaan.
Kenapa kategori A dan B bisa punya tarif yang sama di gaji tertentu?
Karena tabel TER disusun berjenjang berdasarkan lapisan gaji yang berbeda-beda tiap kategori, ada titik gaji tertentu di mana lapisan tarif A dan B kebetulan bertemu di persentase yang sama.
Apakah simulasi ini berlaku untuk semua jenis karyawan?
Simulasi ini berlaku untuk pegawai tetap dengan penghasilan rutin bulanan yang dipotong PPh 21 menggunakan skema TER pada masa pajak Januari-November.
Apakah hasil simulasi ini final untuk pajak setahun?
Tidak. Hasil TER bulanan akan direkonsiliasi pada Desember menggunakan tarif progresif Pasal 17 UU PPh untuk menentukan PPh 21 final setahun.
Ingin memahami langkah-langkah manual menghitung TER untuk gaji Anda sendiri?
Baca Cara Hitung PPh 21 TER LengkapKesimpulan
Simulasi potongan PPh 21 kategori A, B, dan C di atas menunjukkan bahwa status PTKP memang memengaruhi besaran pajak yang dibayar, namun pola penghematannya tidak selalu linear di setiap level gaji. Pada beberapa titik, karyawan lajang dan menikah bisa membayar pajak yang sama persis, sementara di titik lain selisihnya cukup signifikan, tergantung di mana gaji tersebut jatuh dalam struktur lapisan tabel TER masing-masing kategori.
Bagi karyawan, simulasi ini bisa jadi acuan cepat memperkirakan potongan pajak bulanan tanpa perlu membuka seluruh tabel resmi. Namun untuk kebutuhan payroll perusahaan atau perhitungan yang memasukkan komponen tunjangan, bonus, dan potongan lain, tetap disarankan merujuk tabel TER resmi lengkap dan berkonsultasi dengan bagian pajak internal untuk memastikan akurasi penuh.





